Akhirnya, meski mengaku—dan tampaknya memang—unggul secara militer selama 39 hari perang dengan Iran, Amerika menyetujui gencatan senjata. Dalam logika perang, pihak yang unggul tidak mungkin menerima gencatan senjata apabila masih bisa menekan lawan. Namun kenyataannya, AS harus menerima batas strategi militernya dengan menerima pilihan gencatan senjata ini. AS sementara ini telah sampai pada titik lelahnya (fatigue).
Salah satu hal yang menyulitkan dalam mengakhiri perang ialah menghadapi pihak yang tidak takut mati. AS dan Israel telah membunuh banyak petinggi Iran dalam 39 hari ini, bahkan termasuk Ali Khamenei, Pemimpin Tertinggi. AS dan Israel juga mampu melumpuhkan arsenal persenjataan dan infrastruktur Iran. Namun ternyata ini tidak mendatangkan rasa takut pada Iran. Rakyatnya berbondong-bondong ke jalan menyatakan sumpah setia kepada negara, lalu bersama membentuk benteng manusia di sekitar instalasi nuklir yang akan menjadi target bom Amerika.
Bagaimana menjelaskan hal ini?
Kita bisa mendekatinya dari sistem nilai yang telah hidup di Iran, khususnya dalam tradisi Syiah. Dalam Syiah terdapat apa yang bisa disebut sebagai “software ideologis” yang memaknai kematian bukan sebagai akhir, melainkan sebagai puncak pengorbanan. Keyakinan ini berakar kuat pada sejarah teologis, terutama pada peristiwa Pertempuran Karbala dan figur sentral Imam Husain, yang menjadi simbol utama kesyahidan. Dalam narasi ini, kematian bukan sesuatu yang dihindari, tetapi sesuatu yang, dalam kondisi tertentu, justru dimuliakan.
Orang Syiah mempunyai relasi kuat terhadap sejarah dan menginternalisasinya sehingga mereka memandang diri bukan sebagai observer (pengamat) sejarah, melainkan sebagai partisipan (pelaku) dalam peristiwa sejarah tersebut. Akibatnya, peristiwa pengorbanan para Imam, termasuk Husain, tidak terasa sebagai suatu peristiwa yang terjadi jauh di masa lalu, melainkan terasa dekat dan seolah sedang berlangsung. Mereka merasa hadir di dalam peristiwa itu.
Dalam konteks kontemporer, kematian Ali Khamenei memperkuat pola tersebut. Bagi sebagian besar komunitas Syiah, Khamenei bukan sekadar pemimpin politik, tetapi representasi otoritas keagamaan yang memiliki keterhubungan simbolik dengan para Imam, dan pada akhirnya dengan Nabi. Loyalitas kepadanya tidak hanya bersifat politis, tetapi juga teologis dan religius. Secara politik Khamenei adalah pemimpin Iran. Secara ideologis dia adalah Wali Faqih. Dan secara agama dia adalah Marja’ Taqlid. Dalam bahasa yang agak ekstrem dari saya, kedudukan Khamenei di tengah umat kontemporer tak ubahnya semacam kedudukan Nabi dan Imam pada masa mereka di tengah umat di zamannya.
Dari sini muncul logika yang cukup kuat. Jika figur setingkat Imam Husain dan Khamenei saja dapat—dan bahkan rela—mengorbankan nyawa, maka pengorbanan individu biasa menjadi jauh lebih mudah untuk diterima. Kematian tidak lagi dipandang sebagai kerugian mutlak, melainkan sebagai bagian dari kesinambungan perjuangan. Itulah mengapa perang tidak berhenti dengan gugurnya Khamenei.
Dalam kerangka ini, strategi pembunuhan Ali Khamenei di tahap awal (decapitation) yang dilakukan AS justru kontraproduktif. Ketika “darah yang paling bernilai” telah tertumpah di awal, maka nilai simbolik dari kematian berikutnya relatif menurun. Dengan kata lain, hambatan psikologis untuk terus berkorban menjadi semakin rendah.
Jika dianalogikan dengan konsep marginal cost, maka yang terjadi adalah penurunan biaya psikologis marjinal. Setiap tambahan pengorbanan berikutnya tidak lagi dirasakan seberat sebelumnya. Dalam kondisi seperti ini, justru terdapat kecenderungan eskalasi, di mana semakin banyak korban, semakin kuat dorongan untuk melanjutkan perjuangan.
Sebaliknya, jika kemarin AS dan Israel melakukan strategi pembunuhan secara bertahap—dimulai dari level bawah hingga ke puncak kepemimpinan—maka biaya psikologis marjinal bagi Iran bisa meningkat secara gradual. Dalam skenario ini, terdapat kemungkinan munculnya titik jenuh di saat average cost menjadi semakin besar untuk ditanggung, sehingga membuka ruang bagi deeskalasi atau penyerahan diri kepada AS.
Namun, dalam kasus Iran, yang terjadi justru sebaliknya. Kematian figur puncak di awal telah secara langsung menurunkan marginal cost of sacrifice (biaya marginal untuk berkorban) sehingga menciptakan efek mobilisasi total. Hal ini menjelaskan mengapa, meskipun secara militer berada dalam posisi yang tidak unggul, Iran dan basis ideologisnya tetap menunjukkan ketahanan yang tinggi. Gas terus, rem blong. Seolah mengirimkan pesan bahwa tekanan dan korban tidak akan menghentikan mereka.
Di sisi lain, kondisi ini memperlihatkan keterbatasan kelompok sekuler seperti Reza Pahlavi. Tanpa kerangka ideologis yang memaknai pengorbanan sebagai sesuatu yang luhur, pilihan untuk mempertaruhkan nyawa menjadi tidak rasional dalam kalkulasi mereka. Marginal cost mereka justru meningkat ketika terdapat risiko korban jiwa. Sehingga strategi yang diambil pun cenderung menunggu momentum yang aman, alih-alih terlibat langsung dalam risiko tinggi.
Di titik inilah kontrasnya. Pihak Republik Islam Iran siap menukar nyawa dengan makna, Reza Pahlavi tidak berani bertaruh nyawa sebab ia menginginkan tahta. Pahlavi dan para monarkis sekuler justru menunda langkah sambil menunggu kepastian. Ia tidak akan berani pulang kecuali apabila karpet merah sudah terbentang.
Itu pun karpet pinjaman dari Israel.

.png)
0 Komentar